POSBINDU SALIMAH PLAJU, POSBINDU binaan BTKL PP Kelas I Palembang

11 Juni 2014

ditampilkan : 2469 kali

  1.       Latar Belakang

Saat ini pola penyakit telah mengalami transisi epidemiologi, yamg ditandai dengan beralihnya penyebab kematian yang semula didominasi oleh penyakit menular bergeser ke penyakit tidak menular (non-communicable disease). Perubahan pola penyakit tersebut sangat dipengaruhi oleh keadaan demografi, sosial ekonomi, dan sosial budaya. Kecenderungan perubahan ini juga tekah terjadi di Indonesia, sehingga menjadi salah satu tantangan dalam pembangunan di bidang kesehatan.

Penyakit Tidak Menular (PTM) yang utama adalah kardiovaskuler, stroke, diabetes mellitus, hipertensi dan penyakit kronik obstruktif telah mengalami peningkatan jumlah kasus, khususnya di negara berkembang. Kondisi ini berdampak pada peningkatan angka kematian dan kecacatan. WHO memperkirakan pada tahun 2020, penyakit tidak menular akan menyebabkan 73% kematian dan 60% dari seluruh kesakitan di dunia. 2 dari 3 kematian setiap tahunnya terjadi karena penyakit tidak menular. 9 juta kematian terjadi pada usia kurang dari 60 tahun. 90% kematian akibat penyakit tidak menular terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia. Lebih dari  70% penderita penyakit tidak menular tidak tahu kalau dirinya sakit dan 30%nya tidak berobat secara teratur di Indonesia. Milyaran Rupiah hilang terbuang  percuma akibat penyakit tidak menular dan memperburuk kemiskinan.

Masalah PTM yang kian meningkat dan mengancam pertumbuhan ekonomi nasional. Masyarakat kurang menyadari tentang PTM dan faktor risiko untuk timbulnya PTM di  masyarakat  Fasilitas yankes yang ada belum memadai untuk pencegahan & penanggulangan PTM. Kegiatan Pencegahan & Penanggulangan PTM masih terkotak kotak & belum terkoordinasi secara terpadu. perlu reformasi pelayanan kesehatan & perencanaan yang komprehensif dan berbasis masyarakat. Dengan memperhatikan masalah PTM di masyarakat maka dapat dilihat bahwa morbiditas & mortalitas tinggi dan faktor risiko ptm tidak memberikan gejala. Dengan itu maka dapat menggunakan sumberdaya masyarakat, memberdayakan Potensi masyarakat sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan sesuai dengan budaya & kebiasaan masyarakat maka dapat dibentuk Posbindu PTM, dimana posbindu pptm berbasis masyarakat dengan mengutamakan fungsi koordinatif dan konsultatif dimana Pemerintah hanya sebagai motivator,  fasilitator   dan kendali mutu pelayanan kesehatan.

Berdasarkan permasalahan di atas, maka perlu tetap dilaksanakan Posbindu PTM seperti yang telah dirintis pada tahun 2014 lalu. Dan untuk memperlancar pelaksanaannya diharapkan ada kader-kader POSBINDU terlatih. Untuk itu maka dalam pelaksanaan POSBINDU PTM kali ini BTKL PP Kelas I Palembang berkerjasama dengan SALIMAH.

SALIMAH hadir berupaya membawa harapan untuk dapat menjadi salah satu komponen bangsa yang  berkontribusi dalam mencari jalan keluar bagi berbagai problematika bangsa dengan program-program yang mendorong pemberdayaan perempuan, pengokohkan institusi keluarga serta perlindungan memadai bagi anak.Salah satu permasalahan yang dihadapi masyarakat pada saat ini adalah masih rendahnya kualitas kesehatan perempuan dan ibu Indonesia. SALIMAH sebagai sebuah ormas yang ingin tetap terus beramal ingin terlibat langsung dalam pelaksanaan POSBINDU PTM, karena memang struktur organisasi SALIMAH yang sudah mengakar di level kecamatan diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

 

  1.       Tujuan POSBINDU PTM

 

   Secara umum Posbindu PTM Salimah sendiri bertujuan untuk :

  1.       Membudayakan Gaya Hidup Sehat  (berperilaku CERDIK) dalam lingkungan yg kondusif di rutinitas kehidupannya.
  2.       Faktor risiko PTM yg kurang menimbulkan gejala secara bersamaan dapat terdeteksi & terkendali secara dini.
  3.       Metodologis dan bermakna secara klinis dimana kegiatan dpt dipertanggung jawabkan secara medis dan dilaksanakan oleh kader khusus dan bertanggung jawab yg telah mengikuti pelatihan metode deteksi dini atau edukator PPTM

Dengan memperhatikan tingkat ekonomi masyarakat Indonesia maka Posbindu PTM ini termasuk fasilitas kesehatan yang murah dimana dilakukan oleh masyarakat secara kolektif dgn biaya yg disepakati/sesuai kemampuan masyarakat. Selain itu Posbindu PTM mudah dijangkau karena diselenggarakan di lingkungan tempat tinggal masyarakat/ lingkungan tempat kerja dgn jadual waktu yang disepakati.

 

  1.       Penerima Manfaat

     Penerima manfaat dari kegiatan ini adalah SALIMAH Kota Palembang khususnya ibu-ibu majelis taklim binaan dan jejaring SALIMAH yang berlokasi di Tegal Binangun, Plaju.

 

      4. Pelaksanaan POSBINDU PTM

  1.       Metode Pelaksanaan

Metodologi yang digunakan survei dengan KMS, pemeriksaan tekanan darah, indeks massa tubuh, dan pengambilan sampel darah jari responden dengan alat periksa kolesterol, asam urat, dan gula darah.

  1.       Tahapan Kegiatan
  2.       Rapat persiapan
  3.       Persiapan sebelum ke lapangan
  4.       Pelaksanaan kegiatan di lapangan
  5.       Pengolahan dan analisa data
  6.       Penyusunan dan laporan hasil kegiatan.

                 

  1.  Petugas Pelaksana

Pelaksanaan POSBINDU PTM adalah pegawai BTKL PP Kelas I Palembang diutamakan dari bagian Instalasi PTM dan Jafung epidemiologi yang diberi surat tugas. Di lapangan pelaksanaannya dibantu oleh kader dari SALIMAH.

 

  1.       Waktu Pelaksanaan

Pelaksanaan POSBINDU PTM  yang dilaporkan selama triwulan I adalah sebanyak 2 kali  dari satu tahun anggaran.

 

  1.   Biaya Yang Dibutuhkan

        Untuk melaksankan kegiatan ini biaya diperlu dari tunjangan kinerja masing-    masing petugas.

5. Penyajian Data.

5.1 Distribusi jumlah peserta berdasarkan jenis kelamin.

Distribusi peserta berdasarkan jenis kelamin dari 2 kali pelaksanaan POSBINDU PTM SALIMAH, sesuai dengan cakupannya SALIMAH adalah wadah majelis ta’lim ibu-ibu, jadi pesertanya semua adalah perempuan.

Adapun peserta yang mengikuti POSBINDU PTM pertama berjumlah 43 orang dan POSBINDU PTM kedua berjumlah 45 orang dan yang menjadi catatan bahwa secara keseluruhan peserta tersebut bukan orang yang sama.

 

5.2    Distribusi hubungan umur dengan gula darah.

 Distribusi hubungan umur dengan gula darah pada POSBINDU PTM pertama dapat terlihat dari gambar berikut.

Gambar 1. Distribusi Hubungan umur dengan Gula Darah POSBINDU PTM pertama.

 

Dari gambar 1 dapat terlihat bahwa umur 18-44 tahun semua responden kadar gula darahnya normal dan pada kategori 45-54 tahun diketahui ada 3 orang responden yang kadar gula darahnya > 200 mg/dl  dan pada umur 55 ke atas ada 1 orang yang kadar gula darahnya > 200 mg/dl.

Dan dari 43 peserta yang mengikuti POSBINDU PTM pertama hanya 28 orang saja yang diperiksa kadar gula darah sewaktunya.

Gambar 2: Distribusi Hubungan umur dengan Gula Darah POSBINDU PTM kedua.

 

Dan dari gambar 2 bisa terlihat bahwa pada umur 18-44 tahun semua responden  kadar gula darahnya normal dan pada katagori 45-54 tahun  diketahui ada 2 orang yang gula darahnya 145-199, ada juga 2 orang yang gula darahnya > 200 mg/dl. Sedangkan pada umur 55 ke atas ada 1 orang yang kadar gula darahnya > 200 mg/dl

Dan dari 45 orang peserta yang mengikuti POSBINDU PTM kedua hanya 24 orang saja yang diperiksa kadar gula darah sewaktunya.

 

1.2  Distribusi Tekanan darah berdasarkan umur

Gambar 3: Distribusi tekanan darah berdasarkan umur pada Posbindu PTM pertama Salimah

Dari gambar 3 diatas terlihat kategori umur 45-54 tahun keatas ada 3 orang dengan tekanan darahnya >140/90 mmHg, pada umur 55 tahun keatas ada 3 orang dengan tekanan darahnya >140/90 mmHg.

Gambar 4: Distribusi tekanan darah berdasarkan umur pada Posbindu PTM kedua SALIMAH.

Dari gambar 4 terlihat pada umur 45-54 tahun ada 3 orang dengan tekanan darahnya > 140/90 mmHg, pada umur 55 tahun keatas tekanan darahnya >140/90 mmHg cederung menurun yaitu ada 1 orang.

1.3  Distribusi IMT dengan Visceral Fat.

 

Gambar 5: Distribusi IMT dengan Visceral fat pada Posbindu salimah pertama

 

 Dari gambar 5 diatas terlihat Bahwa Visceral fat yang sangat tinggi ada 1 orang dengan IMT >25 kg/m2, sedangkan IMT 23-25 kg/m2 dengan visceral fatnya terlihat normal.

 Gambar 6: Distribusi IMT dengan Visceral Fat pada Posbindu SALIMAH Kedua.

 

Dari gambar 6 terlihat bahwa visceral fat yang tinggi ada 11 orang dengan IMT >25 kg/m2, ada 2 orang yang visceral fat sangat tinggi dengan IMT > 25 kg/m2.

 

 

Komentar :


Silakan login atau daftar sebagai member untuk memberi komentar

Berita Terbaru

  • Pemeriksaan IVA Test di Kel.Loa Tebu, Kab.Kutai Kartanegara
    Oleh : Kalimantan Timur

    #GERMAS perduli kanker leher rahim dan kanker payudara, deteksi dini dengan pemeriksaan IVA Test/CBE di Kel.Loa Tebu, Kab.Kutai Kartanegara.

    Selengkapnya
  • Posbindu PTM di Desa Loa Duri Ilir
    Oleh : Kalimantan Timur

    Pembentukan Posbindu PTM di Desa Loa Duri Ilir Kab.Kutai Kartanegara yang mendapat dukungan penuh dari dana desa untuk pengadaan alat dan rapid test pemeriksaan kesehatan.

    Selengkapnya
  • Skrening Merokok Pada Anak Sekolah
    Oleh : Sulawesi Selatan

    Skrenng merokok pada anak sekolah dari SMP/sederajat (kelas 7) 6 sekolah dan SMA/Sederajat (kelas 10) 6 sekolah dan terlaksanan dengan baik.

    Selengkapnya
  • Deteksi Dini Perokok Remaja Usia 15-19 Tahun di Kabupaten Barru
    Oleh : Sulawesi Selatan

    Kegiatan deteksi dini perokok remaja usia 15-19 tahun menggunakan alat Co Analyzer di SMPN 1 Barru, wilayah kerja Puskesmas Padongko.

    Selengkapnya
  • Pemeriksaan Karbon Monoksida (CO) Smoker pada Anak Sekolah di SMA N 1 KALIANDA LAMPUNG SELATAN
    Oleh : Lampung

    Pemeriksaan Karbon Monoksida (CO) Smoker pada Anak Sekolah di SMA N 1 KALIANDA LAMPUNG SELATAN

    Selengkapnya