HASIL JAJAK PENDAPAT "40% PELAJAR MENGAKU PERNAH MEROKOK"

22 Desember 2013

ditampilkan : 2934 kali

Survei yang dilakukan Oleh Kementerian Kesehatan (Dit PPTM, Dinkes Provinsi Bali dan Dinkes Kota Denpasar) bekerjasama dengan Litbang FKM UI, menyelenggarakan jajak pendapat dikalangan pelajar SMP dan SMA di Kota Denpasar,  pada tanggal 17-25 September 2013, dengan hasil yang sangat mengejutkan; ternyata 40% diantaranya mengaku pernah mengkonsumsi rokok.
Berita ini dimuat dibeberapa media; Nusa Bali dan Denpost  pada hari jumat,  tanggal 20 Desember 2013
Sedangkan berita yang dimuat pada http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/12/20/3/202669/24-Persen-Pelajar-Samarinda-Merokok, menyatakan 24 persen pelajar SMP dan siswa SMA di Samarinda, Kalimantan Timur, merokok.

Berikut kutipan berita hasil jajak pendapat di Dua Kota tersebut:


Lumintang, DenPost (Denpasar, Bali)

Berdasarkan hasil jajak pendapat , ternyata 40 persen pelajar di Denpasar pernah merokok. Jajak pendapat ini terkait larangan iklan, promosi dan sponsorship rokok di Kota Denpasar tahun 2013 yang dilakukan Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PPTM) Dirjen P2PL Kementerian RI bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia, dan Dinas Kesehatan Kota Denpasar. Survei dilakukan secara acak di 16 SMP/SMA, baik swasta maupun negeri di Denpasar selama delapan hari tepatnya dari, 17 s.d. 25 September lalu.

Diseminasi hasil jajak pendapat tersebut, dilakukan di ruang pertemuan Dinas Kesehatan Kota Denpasar, Kamis (19/12) kemarin. Dalam kesempatan itu, hadir tim dari Direktorat PPTM Dirjen P2PL Kementerian RI dan Universitas Indonesia, dr. Prima Yosephine, dr. Nugroho Soeharno, dan Nuraini SKM., M.Sc., Kadis Kesehatan Kota Denpasar, dr. Luh Putu Sri Armini M.Kes., dan perwakilan dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota Denpasar, serta Dinas Kesehatan Kota Denpasar.

Nugroho mengatakan, hasil survei jajak pendapat siswa sekolah menengah terhadap larangan iklan dan sponsor rokok tahun 2013 ini, dilakukan di lima kota besar di Indonesia, yakni Manado, Palembang, Samarinda, Yogyakarta, dan Denpasar. Survei yang dilakukan ini, lanjut dia, untuk memperoleh gambaran umum pendapat masyarakat, mengenai penerapan larangan total iklan, promosi dan sponsorship rokok. ‘’Distribusi responden menurut jenis kelamin di Kota Palembang, Samarinda, Manado, dan Yogyakarta relatif lebih banyak responden perempuan (50-57 persen). Sedangkan di Kota Denpasar, proporsi perempuan lebih sedikit yaitu 44 persen dibandingkan laki-laki,’’ kata Nugroho.

Ditambahkannya, untuk usia responden paling rendah yakni 11 tahun dan paling tinggi 19 tahun. Sementara untuk kelompok usia 11-13 tahun proporsi terendah 6 persen terdapat di Kota Denpasar, dan tertinggi 31 persen di Kota Manado. Lebih dari 50 persen responden berusia 14-16 tahun, yang terendah 52 persen di Kota Samarinda dan tertinggi 68 persen di Yogyakarta. Untuk kelompok usia 17-19 tahun, 6 persen terendah di Yogyakarta dan tertinggi 44 persen di Kota Denpasar. ‘’Alasan merokok sebagian besar karena mengaku karena teman yaitu berkisar 38 persen di Denpasar, 69 persen di Manado, dan untuk menghilangkan stres 24 persen sampai 44 persen, serta karena ada anggota keluarga yang merokok 14-23 persen,’’ paparnya.   

Kadis Kesehatan Kota Denpasar, dr. Luh Putu Sri Armini M.Kes., menyatakan, dari hasil jajak pendapat, selanjutnya akan dibuatkan laporan yang diteruskan ke Walikota Denpasar. ‘’Hasil ini kami buatkan laporan ke Bapak Walikota, sehingga nantinya ada landasan atau kebijakan untuk iklan rokok,’’ ujarnya.

Lebih jauh dikatakan, kegiatan tersebut sangat mendukung semangat Pemerintah Kota Denpasar dalam rangka pengembangan Kota Sehat dan kebijakan Pemkot Denpasar dalam pengendalian tembakau sebagai bagian dari program pengendalian penyakit tidak menular. Mengingat, pengendalian tembakau di Kota Denpasar terus bergerak mulai dari terbitnya Peraturan Walikota Denpasar Nomor 25A tahun 2010 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) hingga disahkannya Perda KTR Kota Denpasar pada bulan ini. (112)



Metrotvnews.com, Samarinda:

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, diketahui sebanyak 24 persen pelajar SMP dan siswa SMA di Samarinda, Kalimantan Timur, merokok.

Survei melalui jajak pendapat siswa sekolah menengah terhadap Larangan Iklan dan Sponsor Rokok dari Kementrian Kesehatan bekerjasama dengan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, menunjukan 24 persen pelajar di Samarinda mengakui pernah mencoba rokok.


Salah seorang anggota tim survei dari Direktorat PPTM, dr. Fahrina Andayani, di Samarinda, Kamis (19/12) mengungkapkan selain di Kota Samarinda, survei itu juga  dilakukan di empat kota lainnya di Indonesia yakni, Manado, Palembang, Jogjakarta Serta Kota Denpasar.

"Khusus di Kota Samarinda, kami melakukan survei terhitung sejak September 2013 lalu yang dibantu tim dari Dinas Kesehatan Kota Samarinda. Survei ini dilakukan pada delapan sekolah tingkat SMP dan delapan SMA dengan melibatkan 320 pelajar," kata Farina.
 
Ada beberapa indikator yang diambil dalam survei tersebut kata dia diantaranya, data grafis persentase yang mengungkapkan usia pertama merokok, alasan kenapa merokok serta  persentase tanggapan terhadap bahaya rokok bagi kesehatan. Untuk di Samarinda dia menambahkan, rata-rata pelajar mengaku memilih rokok karena pengaruh harga dan iklan. Sedangkan 61 persen pelajar di Samarinda menyetujui adanya larangan merokok dari pemerintah dan angka ini berbeda dengan pelajar di kota Palembang yang menyatakan hal sama yakni mencapai 76 persen. Selain itu di Kota Manado 74 persen, Jogjakarta 72 persen dan terendah di Denpasar dengan 55 persen yang menyetujui larangan merokok tersebut.

Berdasarkan survei tersebut Direktorat PPTM akan memberikan rekomendasi agar pemerintah kota segera mengimplementasikan peraturan pelarangan merokok, baik di lingkungan perkantoran, tempat umum maupun di lingkungan keluarga.  "Selain itu juga akan diatur bentuk iklan dan sponsor rokok yang dapat memancing para pelajar untuk mencoba. Langkah ini sebagai upaya untuk menekan angka kematian yang tinggi akibat rokok mengingat Indonesia merupakan negara terbesar ketiga dengan jumlah perokok terbesar di dunia setelah Cina dan India," ungkap Farina.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Samarinda drg Nina Endang Rahayu mengakui, survei tersebut sangat penting dilakukan karena sejalan dengan keinginan Pemkot Samarinda dalam mewujudkan Kota Layak Anak. "Sehingga dari hasil Survei tadi bisa  dijadikan tolak ukur dalam mengantisipasi tindakan menanggulangi peredaran tembakau  di kalangan pelajar," ungkap Nina Endang Rahayu. (Ant)

Komentar :


Silakan login atau daftar sebagai member untuk memberi komentar

Berita Terbaru

  • Pemeriksaan IVA Test di Kel.Loa Tebu, Kab.Kutai Kartanegara
    Oleh : Kalimantan Timur

    #GERMAS perduli kanker leher rahim dan kanker payudara, deteksi dini dengan pemeriksaan IVA Test/CBE di Kel.Loa Tebu, Kab.Kutai Kartanegara.

    Selengkapnya
  • Posbindu PTM di Desa Loa Duri Ilir
    Oleh : Kalimantan Timur

    Pembentukan Posbindu PTM di Desa Loa Duri Ilir Kab.Kutai Kartanegara yang mendapat dukungan penuh dari dana desa untuk pengadaan alat dan rapid test pemeriksaan kesehatan.

    Selengkapnya
  • Skrening Merokok Pada Anak Sekolah
    Oleh : Sulawesi Selatan

    Skrenng merokok pada anak sekolah dari SMP/sederajat (kelas 7) 6 sekolah dan SMA/Sederajat (kelas 10) 6 sekolah dan terlaksanan dengan baik.

    Selengkapnya
  • Deteksi Dini Perokok Remaja Usia 15-19 Tahun di Kabupaten Barru
    Oleh : Sulawesi Selatan

    Kegiatan deteksi dini perokok remaja usia 15-19 tahun menggunakan alat Co Analyzer di SMPN 1 Barru, wilayah kerja Puskesmas Padongko.

    Selengkapnya
  • Pemeriksaan Karbon Monoksida (CO) Smoker pada Anak Sekolah di SMA N 1 KALIANDA LAMPUNG SELATAN
    Oleh : Lampung

    Pemeriksaan Karbon Monoksida (CO) Smoker pada Anak Sekolah di SMA N 1 KALIANDA LAMPUNG SELATAN

    Selengkapnya