Program Pengendalian Tiroid di Indonesia

16 Desember 2013

ditampilkan : 2834 kali

PROGRAM PENGENDALIAN TIROID

 

 

I.   PENDAHULUAN

Kelainan kelenjar tiroid merupakan kelainan endokrin terbanyak kedua setelah diabetes melitus. Disfungsi tiroid meliputi hipotiroidisme dan hipertiroidisme, merupakan masalah klinis yang banyak menimbulkan perdebatan baik yang menyangkut masalah skreening diagnostik, evaluasi, sampai masalah penatalaksanaannya.

 

Hipotiroidisme adalah suatu sindroma klinik akibat penurunan produksi dan sekresi hormon tiroid dan tersering disebabkan oleh gangguan pada kelenjar tiroid yang ditandai oleh peningkatan TSH (Tiroid Stimulating Hormone). Hipotiroidisme merupakan suatu penyakit kronik yang sering ditemukan di masyarakat. Prevalensinya makin tinggi pada kelompok umur makin tua, dan lebih sering terjadi pada wanita. Diperkirakan prevalensinya cukup tinggi di Indonesia mengingat sebagian besar penduduk bermukim di daerah defisiensi iodium. Sebaliknya di negara-negara barat, penyebab terbesar adalah tiroiditis autoimun..

 

World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa 2 (dua) milyar penduduk dunia mengalami defisiensi iodium. Defisiensi iodium seringkali ditemukan di daerah pengunungan di Afrika Tengah, Amerika Latin serta Asia Utara. Di daerah-daerah pegunungan tersebut, dapat ditemukan Gangguan Akibat Kurang Iodium (GAKI), yang merupakan spektrum gangguan yang luas akibat kurangnya iodium dalam makanan. Penelitian yang dilakukan pada populasi umum di Amerika Selatan didapatkan 15% dengan hipotiroidisme subklinis, 1,6% hipotiroidisme klinis, dan 1,5% hipertiroidisme subklinis.

 

Sementara di Indonesia seringkali dijumpai defisiensi iodium adalah di daerah pantai Kebumen di Jawa Tengah dan Kepulauan Maluku. Kejadian hipotiroidisme subklinis ini sangat dipengaruhi oleh usia dan jenis kelamin. Makin tua makin tinggi kejadian hipotiroid subklinis didapatkan. Wanita mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk mendapatkan hipotiroid subklinis, hal ini mungkin dikaitkan dengan penyakit autoimun yang juga sering menyerang kaum wanita. Pada laki-laki diatas usia         74 tahun didapat 16%, sedangkan pada kelompok wanita sebesar 21%.

 

Faktor risiko dari penyakit tiroid adalah umur, jenis kelamin, genetik, merokok, stres, riwayat penyakit keluarga yang berhubungan dengan autoimun, zat kontras yang mengandung Iodium, obat-obatan dan lingkungan.

 

Pengendalian Penyakit Tiroid adalah pencegahan dan penanggulangan faktor risiko gangguan metabolisme kelenjar tiroid yang dititikberatkan pada upaya promotif dan preventif melalui upaya deteksi dini yang bersifat skrening massa. Pelaksanaan skrening di masyarakat bersifat efektif dan efisien mengingat waktu, biaya dan tempat. Skrening bertujuan untuk mengetahui lebih dini tentang kasus penyakit tiroid. Program Pengendalian Tiroid dimulai pada tahun 2010 dengan membuat NSPK yaitu Pedoman Umum Pengendalian Tiroid, kemudian dilanjutkan dengan kajian di daerah untuk mendapat gambaran data penyakit tiroid melalui deteksi penyakit tiroid dan skrining faktor risiko penyakit tiroid  di 5 (lima) kabupaten/ kota yaitu Kota Kendari, Kota Semarang, Kabupaten Gorontalo, Kota Tarakan dan Kabupaten Gianyar yang memiliki prevalensi  ekskresi iodium dalam urin < 100 µg/L diatas prevalensi nasional dengan sasaran wanita usia subur (WUS) usia 15-49 tahun.

 

HASIL KEGIATAN

Hasil kegiatan Pengembangan Pengendalian Penyakit Tiroid melalui Pre-elimineri/ kajian di daerah adalah berupa data dan informasi mengenai gambaran kejadian penyakit tiroid di 5 Kota Kendari, Kota Semarang, Kabupaten Gorontalo, Kota Tarakan dan Kabupaten Gianyar yaitu :

a.   Pengembangan pengendalian penyakit tiroid melalui pre-elimineri/kajian dilaksanakan di 5 Kabupaten / Kota, yaitu Kabupaten Gianyar, Kota Semarang, Kota Tarakan, Kabupaten Gorontalo dan Kota Kendari. Jumlah seluruh responden adalah 5000 orang dengan pembagian masing-masing wilayah 1000 responden. Pemilihan daerah tersebut adalah berdasarkan hasil Riskesdas 2007 data ekskresi iodium dalam urin < 100 µg/L pada anak usia 6 - 12 tahun, dengan prevalensi 12,9%, dan terdapat 12 daerah dengan prevalensi diatas angka nasional, diantaranya adalah 5 daerah tersebut.

b.   Berdasarkan karakteristik responden, paling banyak responden berusia 15 - 19 tahun (28.1%), status menikah (62.8%), pendidikan terakhir SMA (49.9%) dan pekerjaan Ibu Rumah Tangga (IRT) atau tidak bekerja (39.4%).

c.   Hasil pemeriksaan tiroid rappid tes didapatkan bahwa responden dengan hasil garis 2 atau diduga hipotiroid ada sebanyak 200 responden (4%), dan paling banyak ditemukan di Kota Kendari sebanyak 77 responden (38.5%).

d.   Berdasarkan faktor risiko, paling banyak responden yang diduga hipotiroid tidak mengkonsumsi garam beryodium sebanyak 21%.

e.   Berdasarkan riwayat penyakit, paling banyak responden yang diduga hipotiroid mempunya riwayat penyakit genetik sebanyak 28.5%.

f.    Berdasarkan gejala dan tanda klinis, paling banyak responden yang diduga hipotiroid sering merasa lelah sebanyak 65.5%.

g.   Berdasarkan riwayat pariestas, paling banyak responden yang sudah menikah dan diduga hipotiroid pernah mengalami keguguran sebanyak 14%.

 

REKOMENDASI

Kegiatan Pengembangan Pengendalian Penyakit Tiroid melalui Pre-elimineri/ kajian Tiroid yang merupakan program baru dan mulai dikembangkan tahun 2010 oleh Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular khususnya Subdit Pengendalian DM dan PM. Hasil dari kegiatan tersebut akan menjadi rencana tindak lanjut program pengendalian penyakit tiroid selanjutnya. Rekomendasi-rekomendasi yang didapatkan adalah sebagai berikut :

a.   Hasil pengumpulan data di 5 kabupaten / kota menunjukkan bahwa faktor risiko terbesar penyakit tiroid adalah dikarenakan tinggal di daerah endemis kekurangan yodium. Oleh karena itu perlu ditingkatkan konsumsi garam beryodium melalui garam atau makanan lain. Pemerintah Daerah dihimbau untuk  meningkatkan kerjasama dengan instansi terkait dalam peningkatan produksi dan menjaga kualitas garam beryodium, meningkatkan kerjasama dengan instansi berwewenang meningkatkan  pengawasan kualitas kandungan yodium dalam garam  terutama pada daerah sentra produksi garam dan melanjutkan kegiatan promosi, kampanye dan penggerakan masyarakat dalam konsumsi garam beryodium seperti penyimpanan dan pengolahan makanan

b.   Diharapkan masyarakat mendapatkan edukasi yang cukup melalui promosi kesehatan mengenai penyakit tiroid, karena dampak dari penyakit tiroid ini pada ibu hamil khususnya dapat mengakibatkan anak yang lahir menjadi kretin (pendek) dan mempunyai intelegensi rendah.

c.   Program pengembangan pengendalian penyakit tiroid melalui kajian / pre-elimineri di daerah perlu mendapat dukungan dari pemerintah daerah terutama dari segi kebijakan dan penganggaran.

d.   Tersangka hipotiroid harus ditindaklanjuti dengan melakukan pemeriksaan lanjutan fT4, fT3, untuk menegakkan diagnosa hipotiroid.

e.   Kerjasama lintas program dan lintas sektor guna tindak lanjut hasil skrining TSH di Kabupaten / kota

f.    Kegiatan pemantauan berkala secara berkesinambungan dari lintas program dan lintas sektor terhadap beberapa indikator GAKI untuk dapat melakukan skrining Tiroid yang lebih komprehensif, sehingga dapat dilakukan tindakan/ intervensi dini sehingga kondisi yang lebih buruk dapat dicegah.

 

 

Komentar :


Silakan login atau daftar sebagai member untuk memberi komentar

Berita Terbaru

  • Deteksi Dini Perokok Remaja Usia 15-19 Tahun di Kabupaten Barru
    Oleh : Sulawesi Selatan

    Kegiatan deteksi dini perokok remaja usia 15-19 tahun menggunakan alat Co Analyzer di SMPN 1 Barru, wilayah kerja Puskesmas Padongko.

    Selengkapnya
  • Pemeriksaan Karbon Monoksida (CO) Smoker pada Anak Sekolah di SMA N 1 KALIANDA LAMPUNG SELATAN
    Oleh : Lampung

    Pemeriksaan Karbon Monoksida (CO) Smoker pada Anak Sekolah di SMA N 1 KALIANDA LAMPUNG SELATAN

    Selengkapnya
  • Posbindu Khusus di Terminal Utama Pekkae, Kab. Barru
    Oleh : Sulawesi Selatan

    Kegiatan pemeriksaan kesehatan dan deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular pada pengemudi/pengendara kendaraan roda empat menjelang hari raya Idul Adha di Terminal Utama Pekkae Kab. Barru

    Selengkapnya
  • Pemeriksaan IVA dan CBE
    Oleh : Lampung

    Pemeriksaan IVA & CBE Di Desa Mukti Jaya, Wilayah kerja Puskesmas Tri Karya Mulya. Kecamatan. Tanjung Raya

    Selengkapnya
  • Pelatihan Kader Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) Penyakit Tidak Menular
    Oleh : Lampung

    Pelatihan Kader Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) Penyakit Tidak Menular

    Selengkapnya