Perwakilan Kemenkes laporkan seputar Kesehatan Ibu dan Anak pada Pertemuan WHA ke 66 di Jenewa Swiss

27 November 2013

ditampilkan : 2017 kali

Pada (24/5), Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE, menjadi perwakilan dari Kementerian Kesehatan RI pada Pertemuan World Health Assembly (WHA) Ke 66, di Jenewa Swiss.


Pada kesempatan tersebut, Prof. Tjandra menjadi pembicara seputar Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Dalam paparannya, Dirjen P2PL menyampaikan sebagian besar target proksi indikator Indonesia untuk MDG 5 yang sudah tercapai, akan tetapi mengenai angka kematian Ibu yang sudah turun dari 390/100.000 kelahiran hidup di tahun 1991 menjadi 228 (2007) memang belum mencapai target MDG sebesar 102/100.000. Selain itu, angka kematian bayi juga sudah mengalami penurunan dari 68 di tahun 1991 menjadi 32 di tahun 2012, itupun belum mencapai target MDG sebesar 23.

Data menunjukkan bahwa sekitar 50% kematian Ibu dan kematian balita terjadi di 5 propinsi, yang memang beda dengan jumlah penduduknya. The familly planning unmeet need juga sudah turun dari 12,7% di tahun 1991 menjadi 8,5% di tahun 2012, sementara target MDG adalah 5%, jelas Prof. Tjandra.

Lebih lanjut, Prof. Tjandra dalam presentasinya juga menjelaskan mengenai Program KIA dan penurunan angka kematian Ibu dan anak di Indonesia dimulai dengan Safe Motherhood (1990-2000), lalu Making Pregnancy Safer (2001-2010) dan dilanjutkan dengan percepatan MDG antara lain dengan Inpres 3/2010 dan pembuatan serta implementasi Roadmap MDG di pusat dan daerah.

Sementara itu, untuk kegiatan Pasca 2015 dibidang KIA ada 4 point, menurut Prof. Tjandra yaitu Pertemuan Botswana Maret 2013, bagaimana issue kesehatan akan masuk dalam agenda post 2015. Selanjutnya Pertemuan SEAR pada Maret 2013, gambaran umumnya yaitu \\\"human well being and happyness\\\" dan mengandung 4 pilar yaitu antara lain pembangunan sosio ekonomi, good governance, aspek lingkungan dan peran serta budaya dan masyarakat.

Lebih lanjut, mengenai High Level Panel (HLP) meeting on Post 2015, di Bali, terdapat lima area penting mengenai kerjasama internasional, lingkungan global, jaminan produksi dan konsumsi, cara implementasi yang baik serta data dan penilaian kemajuan program; dan terakhir topik penting yang di usulkan adalah antara lain melanjutkan MDGs yang belum selesai, penyakit tidak menular dan faktor risikonya untuk kehamilan, kesehatan reproduksi, kesehatan remaja, gizi dan penguatan sistem kesehatan, tambah Prof Tjandra.

Menurut Prof. Tjandra, pada pembicaraan Komite A di World Health Assembly Ke 66 juga dibahas tentang International Health Regulation (IHR 2005) dan kejadian infeksi virus korona di jazirah Arab. Dimana disepakati bahwa akan segera diberangkatkan tim gabungan WHO dan negara Arab untuk menilai situasi, baik secara umum maupun khusus menghadapi ibadah Haji tahun ini.

Pada hari yang sama, Prof. Tjandra juga mengunjungi markas GAVI (Global Alliance Vaccine Initiative) dan membicarakan tentang introduksi pentavalent di Indonesia dalam beberapa bulan ini, beserta pengalaman negara lain.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id

Komentar :


nikita
29 November 2013

mangtab gan artikelnya

sasha
29 November 2013

Tes Komentar nih ..

sasha
29 November 2013

tes tes

29 November 2013

artikelnya berguna sekali

Silakan login atau daftar sebagai member untuk memberi komentar

Berita Terbaru

  • Pemeriksaan IVA Test di Kel.Loa Tebu, Kab.Kutai Kartanegara
    Oleh : Kalimantan Timur

    #GERMAS perduli kanker leher rahim dan kanker payudara, deteksi dini dengan pemeriksaan IVA Test/CBE di Kel.Loa Tebu, Kab.Kutai Kartanegara.

    Selengkapnya
  • Posbindu PTM di Desa Loa Duri Ilir
    Oleh : Kalimantan Timur

    Pembentukan Posbindu PTM di Desa Loa Duri Ilir Kab.Kutai Kartanegara yang mendapat dukungan penuh dari dana desa untuk pengadaan alat dan rapid test pemeriksaan kesehatan.

    Selengkapnya
  • Skrening Merokok Pada Anak Sekolah
    Oleh : Sulawesi Selatan

    Skrenng merokok pada anak sekolah dari SMP/sederajat (kelas 7) 6 sekolah dan SMA/Sederajat (kelas 10) 6 sekolah dan terlaksanan dengan baik.

    Selengkapnya
  • Deteksi Dini Perokok Remaja Usia 15-19 Tahun di Kabupaten Barru
    Oleh : Sulawesi Selatan

    Kegiatan deteksi dini perokok remaja usia 15-19 tahun menggunakan alat Co Analyzer di SMPN 1 Barru, wilayah kerja Puskesmas Padongko.

    Selengkapnya
  • Pemeriksaan Karbon Monoksida (CO) Smoker pada Anak Sekolah di SMA N 1 KALIANDA LAMPUNG SELATAN
    Oleh : Lampung

    Pemeriksaan Karbon Monoksida (CO) Smoker pada Anak Sekolah di SMA N 1 KALIANDA LAMPUNG SELATAN

    Selengkapnya